Gubernur Salut Terobosan Brilian Bank NTT Hadirkan Festival Desa Binaan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
SERAHKAN. Direktur Utama Bank NTT, menyerahkan bukti pendaftaran kekayaan intelektual merek festival intelektual merek Festival Desa Binaan Bank NTT Desa Detusoko Barat, Ende kepada Bupati Ende, H. Jafar Ahmad, Selasa (25/5) di desa Detusoko Barat. (Stenly Boymau)

ENDE, MediatorStar.com Patut diapresiasi, demi mempertegas prinsipnya sebagai ‘Pelopor Penggerak Ekonomi Rakyat’, maka Bank NTT terus melahirkan strategi bisnis baru. Ini juga bagian dari kontribusi nyata dalam membangun masyarakat NTT.

Festival Desa Binaan Bank NTT adalah sebuah inovasi baru dari Dirut Bank NTT Harry Alex Riwu Kaho dan timnya. Desa binaan ini tersebar di seluruh kabupaten di NTT, dan jumlahnya bervariasi tiap daerah.

Desa binaan ini dibentuk untuk menuntun kehidupan masyarakat ke arah lebih sejahtera, meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan, mewujudkan kemandirian masyarakat desa, membantu dan meningkatkan kondisi sosial ekonomi maayarakat desa serta mempermudah akses masyarakat desa/pengunjung dalam memperoleh informasi wilayah baik informasi potensi wilayah unggulan desa setempat sehingga melahirkan desa binaan yang memiliki kelompok usaha UMKM yang menjalankan usahanya sehingga mandiri.

“Inovasi dari Bank NTT ini bagus. Menjembatani potensi-potensi masyarakat lalu dipasarkan secara digital melalui Bumdes. Bagus ini,”tegas Gubernur NTT, Viktor Laiskodat saat memberikan sambutan dalam kunjungan kerja ke Desa Detusoko, Ende, Selasa (25/5) siang. Saat itu dia memberi apresiasi karena Bank NTT sebagai perusahaan daerah, sudah melakukan loncatan-loncatan di dunia digital.

“Makanya saya bilang bahwa kehadiran Bank NTT sebagai BPD harus mampu menjadi stimulus sehingga harus melakukan kolaborasi dengan baik,”tegasnya.

Sementara Direktur Utama Bank NTT, Harry Alex Riwu Kaho kepada media ini sebelumnya menegaskan bahwa tujuan dari festival desa binaan Bank NTT ini, adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa yang Multiply Effect, menciptakan desa binaan yang mandiri berbasis digital, sentralisasi produk perbankan baik itu produk dana pihak ketiga (DPK) dan Kredit, sebagai media promosi dan pemasaran produk Bank NTT.

Baca Juga  Buktikan Komitmen di Semau, Dirut Pelindo-Gubernur VBL Sepakat, Tenau Bisa Pelabuhan Internasional

“Nantinya ini akan mejadi pilot project pengembangan desa binaan Bank NTT serta menjadi pusat informasi potensi unggulan di daerah tersebut,”tegas Alex sembari menambahkan, dari 21 kabupaten di NTT, ada 46 buah Bumdes yang menjadi peserta festival.

Ada 13 syarat menjadi peserta festival adalah, seperti memiliki produk kreasi warga setempat, produk yang dihasilkan terelektronifikasi memuat history desa dan produk-produk yang dipasarkan (dalam bentuk barcode), produknya dikemas dengan branding Bank NTT.

Tak hanya itu, melainkan harus memiliki LOPO DIA BISA yang dijadikan tempat usaha dan juga sebagai media informasi potensi unggulan yang ada di daerah tersebut, memiliki agen DIA BISA mininal 50 persen dari pelaku ekonomi yang ada di desa tersebut.

Juga, setiap transaksinya menggunakan fasilitas pembayaran Non Tunai (QRIS Bank NTT) dan beberapa syarat lainnya.

Sedangkan juri dari festival ini yakni Ir Abraham Paul Liyanto (Ketua KADIN NTT), Jony Rohi (Dinas Parekraf NTT), dari OJK, Andre Asa (Bank Indonesia) serta Stenly Boymau selaku konsultan humas perbankan.

Penjurian akan dilakukan Juni nanti dengan cara, juri akan melakukan uji petik di lapangan serta pengumumannya akan dilakukan pada Juli nanti saat perayaan HUT Bank NTT. (boy)

admin

admin

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *