Gubernur: TJPS Menuju Skala Industri, Bupati Kupang-Undana Siap Sinergi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
PANEN. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, saat melakukan panen padi dan tanam jagung di kawasan persawahan Kolidoki, Desa Manusak Kabupaten Kupang, Sabtu. (Foto Setda Provinsi)

OELAMASI, MediatorStar.com – Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melakukan Panen Padi dan Tanam Jagung Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) Periode Tanam bulan April-September di kawasan persawahan Kolidoki Desa Manusak dengan luasan lahan potensial 800 ha, Sabtu (29/5).

PANEN. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, saat melakukan panen padi dan tanam jagung di kawasan persawahan Kolidoki, Desa Manusak Kabupaten Kupang, Sabtu. (Foto Setda Provinsi)

“Restorasi Pertanian di NTT terealisasi melalui TJPS dimana Program ini bertujuan meningkatkan luas tanam jagung, meningkatkan produksi dan produktivitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memanfaatkan musim kemarau untuk berproduksi, meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi petani, serta menurunkan tingkat kemiskinan,”demikian Pemprov NTT dalam pernyataan resminya yang diterima media ini, Sabtu.

Saat itu, Gubernur Viktor menekankan tentang kerja kolaborasi, kerja di luar kemampuan manusia, manajemen pengelolaan air untuk setiap musim tanam sehingga terwujudnya Tanam, Jaga dan Panen.

“Kerja diatas 800 ha, jangan kerja lamban dan biasa-biasa saja, kalau tidak kita gagal. Pemimpin pada Dinas Teknis (Pertanian, Peternakan,Perindustrian dan Perikanan) haruslah aktor lapangan yang tangguh di lapangan, kalau mau program kita berhasil, maka Camat, Danramil dan Kapolsek setiap hari harus jaga di sini, Bupati dua kali dalam seminggu, dan Gubernur sebulan sekali. Kita lihat Sumba Tengah, berhasil hanya karena ada kepedulian Bupati, Kapolres, Dandim, para Maramba, dinas terkait, dan para pemudanya,”ungkap Gubernur Laiskodat menambahkan bahwa “Alat pertanian dilarang diberikan ke petani, karena para petani butuh lahanya dikelola dan ditanam, untuk itu, sistemnya brigade, lahan dan petani dimana siap, alsintan turun disitu, kebijakan ini diterapkan untuk mewujudkan keadilan bagi para petani di NTT,”pungkas Gubernur menambahkan, Program TJPS bukan sekedar memenuhi kebutuhan pangan, melainkan untuk pergerakan ekonomi menuju skala industri.

“Untuk menanam jagung sebanyak ini bukan saja untuk makan melainkan untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok industri pakan ternak, kita mesti menyiapkan rantai pasok di daerah ini karena uang yang keluar dari NTT untuk pembelian pakan ternak, setiap tahun sebanyak Satu Triliun lebih,”ungkap Gubernur Viktor.

Baca Juga  IARMI Sumba Timur Terbentuk, Ini Strukturnya

Bupati Kupang, Korinus Masneno dalam sambutanya menyatakan siap berkolaborasi antar Program Kabupaten, Revolusi 5P dengan Program Pemprov yakni TJPS.

“Di tempat ini Potensinya 800 ha, baru dikelola 160 ha untuk padi, segera kami berikan bantuan bibit dan pupuk sebagai program kami Revolusi 5P, namun senang hati juga TJPS masuk di wilayah ini untuk optimalisasi lahan seluas 800 ha.”

Rektor Undana, Frederik L. Benu menyampaikan terkait program TJPS, Undana mendukung penuh pelaksanaannya sebagai wujud kontribusi lembaga pendidikan terhadap pembangunan NTT.

“Atas nama para petani menyampaikan apresiasi, kami sangat merespon dan mendukung program TJPS, pada saat yang sama, lokasi ini kami manfaatkan air dari bendungan Raknamo, harapan kami bapak Gubernur mendorong semua pihak terlibat aktif mengelola lahan 800 ha, kami siap bekerjasama termasuk Kampus Undana, 30.000 mahasiswa kami optimalkan untuk mendukung Program TJPS,”ungkap Rektor Fred.

Kepala Dinas Pertanian dan KP, Lecky F. Koli dalam sambutanya menyampaikan terkait rantai nilai, peluang ekonomi bagi masyarakat serta skenario optimalisasi lahan potensial dan air.

“Panen 160 ha di lahan potensial 800 ha, menghasilkan beras 400 ton maka menghasilkan 4 M, di Dinas Pertanian kami segera menggarap untuk TJPS di lahan ini, segera 800 ha kita kelola, kita panen jagung dalam waktu 100 hari, maka nilai ekonomi dimana proteksi produksi yang dihasilkan 3000 ton maka petani menghasilkan 90 M. (boy/***)

admin

admin

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *