Wujudkan Cinta di Puncak Fulan Fehan, Bupati Belu: Bank NTT Harus Selalu di Depan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
SERAHKAN. Direktur Umum Bank NTT, Johanis L. Praing menyerahkan 15 unit tempat sampah kepada Bupati Belu, dr Taolin Agustinus disaksikan Dirut Bank NTT Harry Alex Riwu Kaho, Direktur Kepatutan, Hilarius Minggu dan tokoh masyarakat setempat. (foto Dok. SelatanIndonesia.com)

FULAN Fehan, sebuah lembah sabana yang luas, membentang di kaki Gunung Lakaan, Jl Loro Lamaknen Kabupaten Belu, adalah peraih juara 1 untuk kategori Dataran Tinggi Terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2020. Untuk menjaga kelestariannya, maka Bank NTT menyatakan keseriusannya dalam menjaga serta merawat alam sekitar, dengan penyerahan tempat pembuangan sampah sementara (TPS).

Jumat (2/7/2021) siang, MediatorStar.com berkesempatan hadir dalam sebuah seremoni, bertempat di rest area, sisi barat Fulan Fehan. Hadir Direktur Utama Bank NTT, Harry Alex Riwu Kaho, Bupati Belu, dr. Taolin Agustinus, serta pejabat dari kedua lembaga. Dari Bank NTT hadir dua direksi lainnya yakni Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu, Direktur Umum, Johanis Landu Praing serta sejumlah kepala divisi yakni Kadiv Rencorsec Endry Wardono, Kadiv Treasury Zeth Lamu, Kadiv Mikro Kecil dan Menengah Johanis Terru, Kadiv SDM, Sandry Bara Lay.

Direktur Umum, Johanis Landu Praing, secara simbolis menyerahkan TPS kepada Pemkab Malaka yang diterima Bupati Belu, Taolin Agustinus disaksikan semua yang hadir dalam seremoni yang dibatasi protokol kesehatan ketat itu.

“Kehadiran Bank NTT disini selain untuk berkontribusi, juga siap ikut petunjuk pak bupati terkait dalam fungsi intermediasi bank. Atas petunjuk dan koordinasi dengan para kadis terkait, untuk memaksimalkan potensi adat dan budaya,”tegas Alex sembari menawarkan usulan seperti digelarnya festival budaya di puncak Fulan Fehan untuk terus memperkenalkannya sebagai potensi wisata.

Tidak hanya itu, Bank NTT terus hadir dalam bentuk mendukung kelestarian kekayaan adat dan budaya tradisional tenun ikat, yakni bekerjasama dengan KemenkumHAM untuk memberikan sertipikat HaKI terhadap produk-produk tersebut. “Sehingga ketika masuk dalam dunia pasar yang terbuka baik online maupun offline, sudah terproteksi. Kami mohon waktu seminggu untuk berkoordinasi dengan KemenkumHAM NTT.”

Baca Juga  Juri Festival Desa Binaan Bank NTT: Digitalisasi dan Elektronifikasi Jadi Prioritas Penilaian

Masih menurutnya, jika Dekranasda memberi kesempatan, maka Bank NTT siap bersinergi. “Untuk perlindungan terhadap potensi adat. Ini upaya yang dilakukan mengacu pada ancaman duplikasi kekayaan budaya kita. Selain bentuk dukungan kita terhadap desa digital dan desa wisata maka kami pun akan mensupport Fulan Fehan ini dengan satu sumur bor, yang jika tidak ada halangan mulai dibor September nanti demi ketersediaan air,”tegas Alex.
Tempat sampah yang diberi, menurut Alex, merupakan bukti kecintaan Bank NTT terhadap kebersihan destinasi wisata. “Mudah-mudahan ini jadi komitmen bersama untuk membersihkan lingkungan.”

Sementara Bupati Belu, Taolin Agustinus dalam sambuatannya menegaskan “Selamat datang di dataran tinggi terpopuler di Indonesia. Tempat terbaik ini memenangkan vote di API Award dan bagi kami ini adalah anugerah Tuhan sehingga kita tidak boleh merusaknya melainkan terus menghadirkan beraneka fasilitas agar siapapun nyaman disini,”tegas Taolin menambahkan lokasi ini akan terus dipoles agar menjadi destinasi unggulan.

Dia sangat berterimakasih atas berbagai perhatian yang dicurahkan oleh Bank NTT kepada masyarakat Kabupaten Belu. “Terimakasih kepada Bank NTT karena bagaimanapun bank ini harus selalu di depan. Terimakasih atas respon yang sudah diberikan kepada kami sehingga bagi kami, di dalam memori harus selalu ada Bank NTT.

Saya harap kepada pimpinan cabang, agar ketika bupati kemana-mana, supaya bisa ikut dan melihat potensinya, kira-kira bank ini mau masuk di sekrtor mana,”ujar Taolin lagi. Terutama sektor UMKM yang berpeluang untuk kerjasama perbankan.

Pertemuan yang berlangsung tidak lama itu dihadiri sejumlah tokoh adat setempat, dan undangan yang tak sampai 20 orang. Adapun acara yang dilangsungkan di sebuah tenda kecil, tepat di ruang terbuka, dilaksanakan dengan protokol ketat, dan tidak sampai 30 menit. (msc/boy)

Baca Juga  Juri Festival Desa Binaan Bank NTT: Digitalisasi dan Elektronifikasi Jadi Prioritas Penilaian
REDAKSI MEDIATORSTAR

REDAKSI MEDIATORSTAR

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *