Alexander Ch. Abineno, Salah Satu Pendiri TNI-AL yang Santun Hingga Akhir Hayat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Kadet Alexander Abineno ketika di Sekolah Pelayaran Belanda di Soerabaya tahun 1939. (Sumber foto: dari Keluarga Alexander Abineno.)

ALEXANDER Ch. ABINENO. Adalah seorang pendiri Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL). Salah satu buktinya adalah, dia memiliki Nomor Registrasi Pusat (NRP) 4/P. Abineno berada di deretan para tokoh TNI AL lainnya, seperti Laksamana R.E Martadinata, yakni mantan Kasal kedua, dengan NRP 10/P.

Data ini diperoleh MediatorStar.com dari sebuah artikel yang ditulis oleh seorang mantan pasukan TNI AL, yang memilih menjadi wartawan, Peter A. Rohi, berdasarkan penuturan anak kandung beliau Alexander Abineno, yakni Arnold P. Abineno.

Utuk diketahui bahwa Alexander Abineno lahir di Kupang 27 April 1918. Kisah mengenai Alex, diawali ketika dia bersekolah di Sekolah Pelayaran Belanda di Surabaya tahun 1939. Saat itu, terdata ada tiga orang Indonesia yang bersekolah disana. Dari data itu tertulis, selain Abineno dari Timor, ikut bersekolah disana, seorang siswa bersuku Jawa, satunya lagi Tionghoa.

Setamatnya dari sana, Alex pun mulai melanglang buana dalam perjuangan fisik kemerdekaan di pulau Jawa. Dia pun bergabung dengan pasukan Angkatan Laut di Tegal. Ternyata disana, beberapa putra NTT pun sudah bergabung. Mereka diantaranya El Tari, Is Tibuludji, Lukas Haudima, Frans Seda dan beberapa lainnya.

Alex pun memulai kariernya di pendidikan Angkatan Laut Republik Indonesia pada tahun 1946 ketika beliau menjadi Kepala Sekolah pada Sekolah Angkatan laut Republik Indonesia di Tegal atas permintaan Presiden Soekarno.

Sekolah Angkatan Laut ini diresmikan pada 12 Mei 1946 yang dihadiri Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta serta Menteri Pertahanan RI Jenderal  Soedirman.

Banyak muridnya di sekolah ini yang kemudian menjadi Pimpinan TNI Angkatan Laut  di Republik ini, termasuk Letjen KKO Ali Sadikin mantan Menteri Perhubungan Laut Indonesia.

Baca Juga  Riwu Ga, Sosok Marhaen Pengawal Bung Karno yang Terlupakan; Karang Taruna Kota Tabur Bunga Pada Makamnya di Mapoli-Kupang

Pada jaman perjuangan fisik kemerdekaan itulah Alex Abineno yang berpangkat Mayor Laut beserta anak buahnya “membawa lari” kapal perang Jepang Sogi Maru ke dalam kesatuan TNI-AL yang kemudian namanya berubah menjadi KRI 01 Republik Indonesia.

Pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda I dan II, Alex Abineno ditugaskan Soekarno untuk memberitakan bahwa Republik Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945 ke wilayah Indonesia bagian timur.

Ketika melaksanakan tugas ini Alex sempat tertangkap oleh Belanda di Pulau Kisar dan dikirim ke Makassar serta ditahan selama kurang lebih 1,5 tahun. Saat itu Makassar dibawah kekuasaan Raymond Westerling.

Beruntung Alex Abineno tidak dieksekusi oleh tentara Westerling yang terkenal sangat ganas membantai pejuang Indonesia. Untuk diketahui bahwa Westerling diperkirakan membunuh 10 ribu rakyat Makassar. Dan, Westerling dalam Wikipedia ditulis sebagai komandan pasukan Gestapo di Asia karena kekejamannya.

Pada tahun 1949 setelah konperensi Meja Bundar dan Belanda mengakui Kedaulatan Republik Indonesia, Alex Abineno mengundurkan diri dari dinas Angkatan Laut Republik Indonesia serta kembali di Timor.  Alex Abineno menganggap dirinya sudah purna dari tugas merebut Republik ini dari Belanda  dan ingin kembali ke Timor dan melanjutkan kehidupan ini dengan bertani di kampung halamannya.

Tetapi yang terjadi jauh dari harapan yang ada, di Timor beliau sebagai putra daerah yang sudah malang melintang di pulau Jawa oleh rakyatnya dipercayakan menduduki jabatan sebagai anggota DPRD pada tahun 1948, bahkan sempat ditunjuk sebagai Kepala Daerah.

Alex Abineno ketika menyambut Presiden Soekarno di Kupang, tahun 1950. (Foto: Dok. Keluarga Abineno)

Alkisah pada tahun 1950-an ketika Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke Timor, maka Alex-pun berkesempatan bertemu kembali dengan mantan atasannya ketika dalam perjuangan dulu.

Baca Juga  Perjuangkan Riwu Ga Jadi Pahlawan, Ini Reaksi Pemprov NTT

Presiden Soekarno sangat senang ketika bertemu kembali dengan Alex Abineno sang Kepala Sekolah Angkatan Laut di Tegal dulu. Saat itu Soekarno mengajak Alex Abineno untuk kembali bertugas di Angkatan Laut Republik Indonesia. Namun Alex yang terkenal santun itu Abineno menolaknya secara halus.

Soekarno menjanjikan akan mengangkat dia sebagai Menteri Perhubungan Laut RI, namun Alex tetaplah Alex. Dia tetap menolaknya. Malah Alex menyebut dan mengusulkan agar Brigjen KKO Ali Sadikin saja yang menduduki jabatan itu. Karena bagi Alex, Ali Sadikin layak.

Dan ternyata benar, Presiden Soekarno di kemudian hari mengangkat Jenderal Ali Sadikin menjadi Menteri Perhubungan Laut sesuai permintaan Alex Abineno. Masih dalam tulisan Peteer A. Rohi, Alex Abineno terkenal sebagai seorang perwira TNI AL yang rendah hati dan tidak gila jabatan.

Alex Abineno bersama isteri mendampingi Presiden Soekarno ketika berkunjung ke Kupang, tahun 1950. (Foto: Dok Keluarga Abineno)

KSAL Republik Indonesia, Laksamana R.E. Martadinata, melalui anak buahnya Letkol Soesatyo Mardhi (pangkat terakhir Laksamana Laut) membujuk Alex Abineno untuk kembali membentuk dan memimpin PT Pelayaran Nusantara Bahari.

Dan, Alex pun menyetujuinya lalu dia kembali ke Jakarta untuk berkiprah sebagai Dirut PT. Pelayaran Nusantara Bahari. Ketika itu Alex banyak merekrut anak-anak muda asal NTT menjadi pelaut, termasuk keponakannya bung Marthen Abineno. Ketika awal Alex memimpin perusahaan ini, perusahaan baru memiliki satu kapal saja. Namun setelah sekian waktu dia pimpin, perusahaan ini berkembang sampai memiliki delapan kapal.

Namun setelah perusahaan ini berkembang pesat, Alex-pun digeser dan diganti dari jabatan Dirut. Alex kemudian dipercayakan sebagai Penasihat Direktur Utama merangkap Direktur Armada pada Perusahaan (PT) Pelayaran Samudera Ampera Lines.

Baca Juga  Namata, Situs Megalitik yang Dijaga Tetap Sakral

KASAL kemudian meminta Alex untuk memindahkan keluarga dari Kupang ke Jakarta dan menawarkan rumah di Jl Diponegoro No. 38 Menteng, Jl, Panglima Polim Jaksel atau Bungur Besar No. 74 Jakarta Pusat. Alex memilih untuk bersama keluarga tinggal di rumah yang berlokasi di Jl. Bungur Besar, Jakarta Pusat.

Di kemudian hari keluarga Alexander Abineno “diminta keluar” dari rumah itu.

“Padahal rumah itu sudah dihibahkan oleh Kasal kepada almarhum, sedangkan pihak TNI-AL menganggap bahwa itu merupakan rumah dan tanah milik kesatuan,”demikian tutur anak almarhum Alex, seperti dikutip dalam tulisan Peter A. Rohi.

Di akhir hayatnya, Alex Abineno meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 8 September 1989 dalam usia 71 tahun. Sang istri (tante Louise Manoh Abineno-Koroh) dan anak-anak beliau sebanyak tujuh orang harus berjuang sendiri untuk mendapatkan hak atas rumah di Bungur Besar.

Tetapi oleh kesatuan, mereka  diberikan rumah pengganti di Jonggol seluas 36 M2 (sesuai tuturan anak alm). “Benar-benar tragis dan memilukan nasib seorang pejuang dan tokoh pendidikan TNI-AL ini,”demikian tulis Peter A. Rohi yang ditulis lagi oleh Nicky Nicholas Uly. Sejarah ini bisa diakses di: https://nickywritehistory.wordpress.com/2021/08/03/alexander-christofel-abineno/

(stenly boymau)

REDAKSI MEDIATORSTAR

REDAKSI MEDIATORSTAR

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *