16 Gua Peninggalan Jepang di Bukit Fatusuba-Baumata, Destinasi Sejarah yang Terabaikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
SITUS BERSEJARAH. Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe, Pdt Dessy Liu-Tatangkeng, bersama tetua adat dan tokoh masyarakat Bonen saat berkunjung ke satu dari 15 gua peninggalan Jepang yang terletak di bukit Fatusuba, Desa Baumata, akhir pekan kemarin. Foto: Istimewa

MEDIATORSTAR.COM, Kupang

Situs-situs bukti pendudukan Jepang saat Perang Dunia II di daratan Timor satu persatu mulai terungkap. Belum lama ini, masyarakat Bonen, Desa Baumata Kabupaten Kupang, bersama Pdt Dessy Liu-Tatengkeng, S.Th dan suaminya, Otniel Dhany Liu, menginvestigasi kawasan seputar Bukit Fatusuba, Bonen, Desa Baumata, dan menemukan setidaknya 16 buah gua.

Belasan gua yang sudah berusia 80-an tahun ini, diduga kuat sebagai bunker atau tempat persembunyian serdadu Jepang saat perang melawan sekutu. Dan juga, diduga kuat, gua-gua ini dipersiapkan untuk pengamanan sekitar bandara El Tari Kupang karena saat itu, Bandara Penfui merupakan satu-satunya akses paling vital bagi tidak saja Jepang melainkan Belanda dan sekutu.

Informasi yang diperoleh Mediatorstar.com melalui Yula Yusadrak Yoel Manafe, seorang warga Kota Kupang yang mengunjungi lokasi tersebut, akhir pekan kemarin menjelaskan bahwa ini adalah sebuah kekayaan wisata yang luar biasa dari Kabupaten Kupang. “Kami melihat sendiri bahwa ternyata belasan gua ini adalah peninggalan tentara Jepang. Bukti-bukti peninggalan ini sangat jelas, berbentuk bunker dengan berbagai ukuran,”tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Pdt Dessy Liu-Tatengkeng, ketua majelis jemat GMIT Mispa Bonen. Bersama suaminya, Otniel, mereka mengisahkan bahwa sebagai pelayan, mereka membantu masyarakat untuk mengoptimalkan potensi wisata yang ada. “Ketika mendapat informasi, kami lalu menginvestigasi dan kemudian membersihkannya,”ujar Pdt Dessy.

Ba’I Niko, seorang saksi mata yang adalah warga setempat, menjelaskan bahwa gua-gua itu merupakan bekas galian tangan yang berbentuk lorong dan kamar-kamar sebagai benteng pertahanan tentara Jepang. Panjang lorong bervariasi, bahkan ada yang panjangnya puluhan meter, menjurus ke samping.

“Ada yang hanya bisa dilalui dengan cara merangkak karena sempit, ada juga yang ketinggiannya mencapai 3 Meter dan salah satu kamar disebut sebagai ruangan khusus untuk pemimpin regu perang karena ruangannya begitu rapih. Bahkan masih terlihat bekas-bekas galian dan ornamen lain di dalam ruang tersebut,”demikian jelas Ba’i Niko yang sudah sepuh itu.

Baca Juga  Namata Kian Mempesona, Dirut Bank NTT Antar Piala API Award ke Sabu
INI adalah lorong salah satu gua peninggalan Jepang di Bonen.
Foto: Istimewa

Ketika menerima informasi tersebut, Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe langsung berkunjung ke lokasi itu, Jumat (24/9). Dalam kunjungannya, Jerry berjanji akan memberikan dukungan agar tempat tersebut menjadi lokasi wisata sejarah.

“Terdapat 16 gua peninggalan Jepang yang sangat bersih, rapih. Walaupun selama ini belum pernah dirawat atau kurang diperhatikan,”kata Jerry. Ternyata disana tidak saja memiliki kekayaan nilai sejarah, melainkan Bukit Fatusuba pun merupakan spot pemandangan terbaik untuk menyaksikan lembah Kupang yang menyatu dengan laut. Disini juga kita dapat menyaksikan sunrise dan sunset yang utuh. Dari bukit tersebut, terdapat pemandangan yang indah, baik ke laut maupun perbukitan. Jerry berterima kasih kepada warga sekitar dan pihak gereja yang terpanggil untuk menjaga dan merawat tempat bersejarah tersebut.

“Kita harus bergandengan tangan untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata, tempat rekreasi. Karena viewnya juga sangat indah. Dan tempatnya sangat dekat dengan kota (Kota Kupang), walaupun masuk wilayah kabupaten,”kata Jerry.

Sementara Sem Konis, seorang warga setempat mengakui, situs sejarah ini bukan saja destinasi yang layak dikunjungi wisatawan domestik tapi juga mancanegara karena selain gua-gua, juga ada suguhan pemandangan indah. “Setelah kita masuk ke dalam gua kita bisa punya akses untuk langsung keluar ke atas bukit yang bisa melihat Kota Kupang. Disini juga kita bisa melihat sunset secara jelas karena tidak ada hambatan karena di ketinggian,”ujarnya. Bersama Otniel Liu, keduanya berharap agar destinasi ini butuh perhatian pemerintah baik akses jalan maupun fasilitas pendukung lainnya. (MSC01)

REDAKSI MEDIATORSTAR

REDAKSI MEDIATORSTAR

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *