IAKN Kupang Terus Bertransformasi, Rapat Senat Dihadiri Wakil Menteri Agama dan Dirjen

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
BANGGA PADA IAKN. Wakil Menteri Agama RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa'adi, M.Si, (kiri), REKTOR IAKN Kupang, DR. Harun Natonis, M.Si (tengah) dan Dirjen Bimas Kristen, Prof Thomas Pentury (kanan), saat Rapat Senat Terbuka Luar Biasa yang berlangsung di gedung kebaktian JNOT, Rabu lalu. Foto: Dok. Humas IAKN Kupang

MEDIATORSTAR.COM, Kupang

Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang semakin menunjukkan eksistensinya dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lembaga Pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) RI ini pun terus bertransformasi di tengah mengemukanya era industri 4.0.

Dari tahun ke tahun, perubahan di institusi yang dipimpin DR. Harun Natonis, M.Si ini sangat nampak. Mulai dari fasilitas kampus baik gedung serta sarana penunjang belajar, tenaga pendidik (dosen), hingga sistem manajemen di dalamnya mulai menunjukkan profesionalitasnya. Kampus yang dulunya tak dianggap itu, kini tertata menjadi kampus berkualitas.

Dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa IAKN Kupang, Rabu (29/9/2021) kemarin, tercatat Program Doktor merupakan angkatan ke-III yang diwisuda, angkatan ke-VIII untuk Program Pasca Sarjana (Magister) Pendidikan Agama Kristen, angkatan ke XIII Program Studi Pendidikan Agama Kristen, angkatan ke-XI Program Studi Musik Gerejawi, dan angkatan ke-Vl Program Studi Pastoral Konseling. Total ada 199 wisudawan saat itu.

Acara wisuda terhadap 199 Wisudawan berlangsung secara luring dan daring dari GMIT Nazaret Oesapa Timur, Kota Kupang, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Para Wisudawan wajib menjalani tes PCR sebelum memasuki lokasi acara.

Hadir saat itu, Wakil Menteri Agama RI, , Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si., Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si., Asisten II Setda Provinsi NTT, Ganef Wurgiyanto, A. APi., Asisten I Setda Kota Kupang, Drs. Agus Ririmase, AP. M.Si., Kabid Bimas Kristen Kanwil Agama Provinsi NTT,  Drs. Yorhan S. Lopis, M.Si., Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, para pendiri STAKN (kini IAKN) Kupang, para pejabat dan dosen, Ketua Dharma Wanita, serta Dewan Penyantun.

Baca Juga  Dukung Riset, Bank NTT Bantu Universitas
APRESIASI. Wakil Menteri Agama RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi terhadap IAKN Kupang yang telah melepas banyak lulusannya.
Foto: Dok. Humas IAKN Kupang

Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si, menyampaikan apresiasi terhadap IAKN Kupang yang telah melepas banyak lulusannya. Dia berharap, para lulusan IAKN mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas, khususnya yang ada di Provinsi NTT.

Menurut Wamenag, saat ini tantangan sebagai umat beragama tidak lagi ringan, namun semakin berat khususnya dalam menghadapi era industri 4.0, sebagai era disrupsi yakni kondisi faktual yang sangat dinamis yang telah dan akan mengubah wajah dunia ini secara radikal. Dia menyebut ada empat tantangan di era transformasi digital saat ini.

Pertama, jelas Wamenag, merupakan tantangan skala global terkait bonus demografi di negeri ini yang pada 10 tahun ke depan, usia produktif akan meningkat secara signifikan. Dan pada era digital saat ini, ada tren yang mengejutkan yakni meningkatnya anak-anak muda yang ingin mempelajari agama, namun melalui internet dan media sosial.

“Survei menunjukan 4,37 persen siswa dan mahasiswa, atau generasi milenial lebih mengandalkan internet untuk belajar agama yang boleh jadi sumbernya memiliki otoritas atau sebaliknya,”ujar Wamenag Zainut.

Tantangan yang kedua, lanjut Wamenag, adalah dihadapkan pada menguatnya isu-isu terkait agama di berbagai belahan dunia. Menurutnya, penguatan identitas kelompok keagamaan apabila bercampur dengan ideologi kepentingan, maka dipastikan akan melahirkan berbagai tindakan termasuk kekerasan fisik maupun non fisik atas nama agama.

“Hal tersebut dapat kita temui dan pelajari dari adanya konflik konflik kekerasan yang dibumbui agama yang terjadi begitu di timur tengah, Australia, Eropa maupun di Amerika belakangan ini,”katanya.

Yang ketiga, terang Wamenag, tantangan di era disrupsi yakni memudarnya nilai-nilai tradisional yang selama ini dijalani semakin memudar, seperti penghormatan terhadap sesama atau yang berbeda sebagaimana menghormati diri sendiri. Manusia terkungkung oleh kencangnya percepatan teknologi yang menyebabkan berubahnya makna-makna dan nilai-nilai yang selama ini dianut.

Baca Juga  Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI Uji Calon Doktor di IAKN Kupang

Tantangan yang keempat, yakni adanya situasi objektif yang lebih sedikit pengaruhnya dibanding hal-hal yang mempengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam bentuk opini publik.  Terlebih lagi, jelas Wamenag,  kecenderungan masyarakat yang menyukai judul berita yang sifatnya provokatif, heboh dan seakan-akan jujur.

“Hal tersebut turut berkontribusi pada maraknya hoax kebohongan yang terencana untuk mengecoh dan menipu orang lain, serta maraknya konten ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama dan berpotensi menimbulkan konflik horizontal baik internal maupun eksternal antar umat beragama,” jelasnya.

“Sebagai Sarjana Agama, para lulusan IAKN harus bisa menjawab tantangan-tantangan tersebut dan harus bisa mengisi kembali nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang terancam, karena perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang dirasakan saat ini,” sambung Wamen.

DIRJEN Bimas Kristen, Prof Thomas Pentury, saat memberikan orasi ilmiahnya.
Foto: Dok. Humas IAKN Kupang

Direktur Jendral (Dirjen) Bimas Kristen Kemenag RI, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si., dalam orasi ilmiahnya menjelaskan, dalam konteks era industri 4.0, ada empat poin yang harus direalisasikan pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini menurut dia, telah tertuang dalam RPJMN tahun 2020–2024.

Empat poin tersebut yakni akses perluasan dan pemerataan, kualitas yang mencakup pencapaian akademik menurut bidang keilmuan yang dikembangkan, aspek relevansi yang mencakup kesesuaian dengan kebutuhan pembangunan dalam industri dan pasar kerja, serta kapasitas untuk berkompetisi yang tercermin pada kinerja kelembagaan, perseorangan (dosen, Peneliti dan lulusan).

“Empat hal ini harus diselesaikan dengan baik. Sehingga Kementerian Agama memberikan akses bagi masyarakat NTT untuk mendapatkan akses pendidikan Tinggi melalui IAKN Kupang,”bebernya.

Di samping itu, menurut Prof. Thomas, menekankan pada kemampuan adaptasi dari para lulusan IAKN Kupang.  Menurutnya, kemampuan adaptasi dengan dunia lua jauh lebih penting dari sekadar kompetensi yang dimiliki para lulusan.

Baca Juga  Masyarakat Tolnaku Nikmati Teknologi Revolusi Industri 4.0 Berkat Hibah dari BRIN

“IAKN Kupang bukan hanya mengedepankan konsep moderasi beragama, tetapi membentuk kompetensi dengan salah satu komponen yaitu kemampuan adaptif, atau kemampuan beradaptasi dengan dengan lingkungan,” tandasnya.

Sementara Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTT, Ganef Wurgiyanto, A. APi., mengaku bangga karena IAKN bukan hanya berkiprah secara nasional tetapi berkiprah untuk dunia. Dia berharap melalui IAKN Kupang dapat terwujudnya perubahan karakter untuk mengubah dunia.

“Karena yang paling penting adalah pembangun manusia dimulai dari perubahan karakter, bekerja keras dan menguasai kemampuan secara teknis. Para wisudawan juga diharapkan menjadi suritauladan di masyarakat,”tandasnya.

MAKSIMAL. Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Natonis, dalam sambutannya menegaskan, pihaknya berusaha maksimal, menghasilkan output berkualitas.
Foto: Dok. Humas IAKN Kupang

Sementara Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis mengatakan IAKN Kupang terus berupaya semaksimal mungkin agar dapat menghasilkan lulusan berkualitas dan memiliki kompetensi di dalam bidang ilmunya, sehingga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“IAKN Kupang memandang bahwa dunia pendidikan tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja atau sekedar meraih standar kompetensi. Hal lain yang lebih utama, yaitu mengubah atau membentuk karakter dan watak peserta didik agar menjadi lebih baik dan lebih santun dalam tataran etika maupun estetika di kehidupan sehari-hari,”tandas Natonis seperti dikutip dalam release resmi IAKN Kupang yang dikirim ke media ini. (***/MSC01)

REDAKSI MEDIATORSTAR

REDAKSI MEDIATORSTAR

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *